Covid 19 juga telah berdampak pada perekonomian masyarakat. Daya jual masyarakat terhadap hasil tanaman kebunnya mengalami penurunan. Hasil tanaman seperti pisang dan ubi kayu yang selama ini dibeli dengan harga misalnya untuk 1 sisir pisang dari Rp.4000, turun menjadi Rp.1000.
Dalam kondisi dimana sekarang ini banyak orang diperhadapkan dengan sebab virus Corona, kita dituntut harus tetap menjaga kesehatan. Cara agar terhindar dari virus mematikan ini setidaknya kita wajib patuh terhadap anjuran pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan Covid 19 dalam keseharian. Selain itu, kita juga dituntut harus bisa meningkatkan imun tubuh.
Salah satu upaya yang dilakukan warga di SP 3 Pangea agar warga memiliki imun tubuh yang baik dengan membuat minuman instan. Produk ini bahan-bahannya diperoleh dari tanaman hasil kebun miliknya. Jahe, temulawak, dan kunyit telah diolah menjadi produk kemasan yang bisa dikonsumsi langsung oleh warga SP 3 Pangea dan sekitarnya.
Dalam kondisi demikian, bapak Ulfin Nuha (47), telah mengembangkan inisiatif berdasarkan pengetahuan yang didapat dari salah satu kawan di Jawa. Inisiatif ini dimulai dengan rasa prihatin atas harga hasil panen tanaman empon-emponnya dibeli murah. Per 1 kilogram jahe dibeli dengan harga Rp.25.000. Sementara untuk kunyit per kilogram harganya Rp.5000. Dengan dibuat minuman instan menurutnya per 1 kilogram kunyit mampu mendapatkan hasil sebanyak Rp. 200.000. Setara dengan 40 bungkus yang dijual Rp.5000 per sachet.
Pemasaran hasil produksinya ini dilakukan dari pintu ke pintu rumah warga SP 3. Cara ini menurut mbak Dwi, cukup manjur karena secara tidak langsung ‘memaksa’ warga untuk membeli.
