Salah satu pembelajaran selama 3 hari di SP3 adalah tentang air untuk kebutuhan domestik yang bisa mengurangi dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan di keluarga. Upaya kelompok Marsudi Lestantun mengatasi krisis air bersih warga dilakukan dengan memanfaatkan sumber mata air dalam kawasan hutan HKm seluas 707 hektar. Dana untuk pengadaan bahan-bahan seperti pipa diperoleh dari pinjaman. Dengan konsekuensi harus dikembalikan. Bagi warga yang memanfaatkan air disepakati harus mengeluarkan uang pokok sebagai biaya pemasangan pipa sebesar Rp. 600 ribu dengan cara diangsur selama 6 bulan. Setiap bulan warga juga harus membayar biaya perawatan sebesar Rp.10.000. Uang setoran per bulan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pembelian pipa yang ukurannya lebih besar, insentif pengurus di setiap blok, dan perawatan bilamana mengalami masalah seperti tersumbat dll.
Batas waktu pelunasan uang pokok sudah berakhir. Ada beberapa warga yang belum lunas. Usaha ibu-ibu untuk menyelesaikan pembayaran ditentang oleh suami. Bahkan sering menjadi masalah yang memicu pertengkaran dalam rumah tangga. Ibu-ibu sebagai pihak yang membutuhkan banyak air dalam urusan domestik menginginkan agar angsuran bisa dilunasi. Sementara suami menentang karena menganggap kelompok Marsudi Lestantun menjadi gemuk atau diuntungkan dengan mengelola air
Masalah ini secara perlahan bisa diatasi sendiri oleh keluarga tersebut. Sang istri memberikan pemahaman kepada suami, manakala air didatangkan dengan cara mengambil di sumur dan sungai. Pastinya perempuan dirugikan karena beban kerja bertambah. Berharap kepada suami untuk membantu mengambil air pastinya akan kehilangan waktu bekerja di lahan.
Berangkat dari situ setidaknya beberapa keluarga pemakai air yang ditentang suaminya untuk melunasi sudah menyelesaikannya. Seperti hari ini, sore tadi, dimana Andi dan istrinya serta anaknya datang melunasi sisa uang pokok. Menurut Andi untuk melunasi ini dirinya harus merelakan sound musik yang dibelinya dengan harga Rp. 1 juta lebih, dijual dengan harga Rp.500 ribu. Andi menjadi salah satu contoh sosok suami sayang istri. Dirinya memilih air daripada mendengar musik …#yeeeee jempol untuk Andi.
Hal yang sama juga dialami oleh Ka Uti. Ta Ani harus membongkar celengan sebagai tempat simpanan uang untuk dipakai melunasi. Demikian dengan ibu Darmo yang harus meminjam uang dari mbah Samain karena suami beliau tidak perdulikan kebutuhan air untuk rumah tangga.
