Sikola Kampo

Kita Hidup Dari Pangan Lokal

Wakatobi tidak akan pernah mengalami kekurangan pangan, jika masyarakatnya tidak antipati terhadap pangan lokal yang dimiliki. Meskipun secara geografis merupakan kawasan kepulauan, bukan berarti daratannya tidak memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk menunjang kelangsungan hidup masyarakatnya. Dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian tanaman pangan, bentuk kearifan lokal yang ada di Kepulauan Wakatobi adalah pendamping bagi ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Kebiasaan konsumsi beras saat ini sangat melunturkan tradisi konsumsi pangan lokal di tengah-tengah masyarakat, terutama di Pulau Tomia. Tak bisa dipungkiri bahwa generasi muda dan anak-anak saat ini rentan terkontaminasi adanya perubahan pola konsumsi yang didapatkan melalui diversifikasi panganan yang didapatkan dalam lingkungan keluarga (rumah). Sehingga banyak dari mereka asing terhadap jenis pangan lokal yang dimiliki selama ini, dan bahkan tidak mengetahui kandungan gizi dan protein yang ada pada jenis pangan lokal tersebut dibandingkan beras.

Pada bidang tanah dengan ukuran 40X40 meter, Sikola Kampo membuat kebun pangan lokal yang ditanami beberapa jenis umbi-umbian seperti, Opa (gembili), Kano (gadung), dan Singkong. Kebun ini dikelola langsung oleh peserta belajar (generasi muda) dengan didampingi oleh beberapa petani lokal, mulai dari proses penyemaian, pembibitan, penanaman, hingga pada teknik perawatan. Kegiatan ini merupakan bentuk upaya dalam mengajak generasi muda agar lebih mengetahui potensi pangan lokal yang ada di Pulau Tomia, dan sebagai media aplikatif dalam mempelajari teknik dan pola pertanian ramah lingkungan yang pernah dilakukan oleh orang tua sejak dahulu secara turun temurun.

Tak lebih dari sekedar belajar mengolah lahan dan berkebun, di sini peserta belajar juga akan melakukan kegiatan-kegiatan inovatif dalam hal pelestarian pangan lokal di beberapa wilayah melalui kolaborasi antar komuntas lokal dengan misi pertanian ramah lingkungan. Kegiatan aplikatif ini oleh mereka (peserta belajar) akan berlanjut pada proses diversifikasi yang mengarah pada pengembangan aneka produk pangan lokal berbasis kekinian yang bernilai ekonomi dan disesuiakan dengan kebutuhan pasar.

 

    Abdi Sikola Kampo