Pencegahan Stunting Untuk Bayi dan Anak Berbasis Pangan Lokal

Meskipun kegiatannya dilakukan secara virtual dengan askses jaringan internet di Desa Kahianga yang sangat terbatas, para peserta belajar yang tergabung dalam Sikola Kampo tetap semangat hingga selesai dalam mengikuti proses kegiatan yang diinisasi oleh Terasmitra dan GEF-SGP Indonsia.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka untuk penanganan daerah prioritas intervensi stunting dan penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan. Sedangkan indikator manfaat utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan untuk rumah tangga sesuai dengan kebutuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman. Selain itu juga peserta yang terlibat diajak untuk bisa memanfaatkan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil dalam pemenuhan pangan serta gizi rumah tangga.

Stunting merupakan masalah gizi kronis, utamanya pada seribu hari pertama kehidupan, mulai dari awal kehamilan ibu hingga anak berusia dua tahun. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 30,8%. Cut off point prevalensi stunting adalah 20%, sehingga masalah stunting di Indonesia masih dikategorikan sebagai masalah kesehatan masyarakat. Salah satu penyebab terjadinya stunting adalah pola makan yang kurang beragam dan bergizi seimbang. Komposisi konsumsi pangan penduduk Indonesia, terutama di daerah-daerah pesisir dan kepulauan kecil seperti Wakatobi masih didominasi oleh konsumsi padi-padian (65,7% AKE). Dalam rangka mencapai upaya tersebut, kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan pengembangan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dan pemanfaatan sumberdaya lokal (local wisdom).

Dalam upaya pencegahan stunting yang terjadi di Pulau Tomia sangatlah penting dipahami oleh kelompok masyarakat terutama pada ibu rumah tangga. Hal ini disebabkan karena selain jenis pangan yang terbatas, juga disertai dengan informasi tentang pemberian makanan pendamping ASI yang masih terbatas. Sehingga dalam proses kegiatan ini peserta diberikan pelatihan dalam membuat olahan pangan dengan nutrisi yang sesuai, sekaligus mudah didapatkan di Pulau Tomia seperti buah, daging, sayur dan kacang-kacangan, guna pemenuhan gizi pada bayi dan anak dalam masa pertumbuhannya dari usia; 0 bulan – 6 bulan sampai dengan usia 12 bulan – 24 bulan.

 

     Abdi Sikola Kampo