Saat menghadapi bulan Safar, masyarakat Indonesia memiliki beragam tradisi. Bulan Safar merupakan bulan yang datang setelah bulan Muharram dalam kalender Islam. Tradisi yang dilakukan pada bulan ini diyakini bahwa untuk menolak kesialan atau wabah penyakit yang terdapat pada bulan tersebut. Dalam tradisi, sama halnya dengan masyarakat Tomia dimana ada kebiasaan unik yang dilakukan setiap bulan Safar. Mereka membuat hidangan yang disediakan untuk selamatan “tolak bala”.

Sahari sebelum diadakan ritual mandi Safar di laut, masyarakat mulai membuat aneka panganan dari ubi kayu (singkong) yang disebut dengan “tombole” dimana ubi kayu yang sudah diparut dan dibuang patinya akan dicampur dengan kelapa parut , irisan bawang merah, garam secukupnya atau biasa juga dicampur dengan gula merah untuk menghasilkan warna kecokelatan dan rasa yang manis. Semua bahan akan dicampur dan diaduk hingga merata, lalu dibungkus dengan daun pisang atau daun kelapa muda (nyiur). Dalam pembuatan tombole terlebih dahulu dilakukan proses bakar batu atau oleh warga lokal menyebutnya “hebatua”, berasal dari kata dasar “fatu” atau batu (dalam Bahasa Indonsia).

Dalam proses pembuatan hebatua, batu akan disusun membentuk piramida atau kerucut di atas susunan kayu bakar. Ketika batu sudah panas, maka akan dibongkar kembali lalu disusun rata untuk meletakkan tombole yang sudah siap dipanggang. Tombole pun diletakkan di atas batu, dan dibagian atas tombole diletakkan pula dengan batu panas yang lain agar tingkat kematangannya merata. Setelah semua tombole dipanggang, tak lupa tumpukan batu panas bersama tombole ditutup dengan daun pisang agar suhu panasnya tidak menyebar ke luar dan proses pemanggangan dilakukan kurang lebih 30 menit, kemudian tombole siap diangkat untuk dihidangkan.

Dalam tradisi masyarakat Wakatobi umumnya, tombole sejak dahulu selain telah menjadi makanan tadisional yang selalu digelar dalam acara adat maupun keagamaan, juga mejadi kegiatan pemantik dalam ajang silaturahmi para kaum muda lokal. Namun kini tombole telah menjadi panganan yang bernilai ekonomi bagi masyarakat dan sudah bisa dijumpai di pasar tradisional, harganya pun sangat terjangkau.
Dudi Gois

