Semangat Dalam Merawat Kearifan Lokal dari Ancaman Globalisasi

Pulau Tomia merupakan sebuah daratan kecil yang bermartabat dan memiliki selendang sejarah yang sangat luhur. Masyarakat Tomia memiliki kosa-budaya yang melimpah, apapun bentuk dan wujudnya. Dalam konteks inilah, nilai-nilai yang sangat erat kaitannya (inheren) dalam kosa-budaya suatu daerah terutama Pulau Tomia seharusnya berfungsi sebagai benteng. Akan tetapi, yang menjadi persoalan mengapa kecenderungan materialistik dan hedonik makin hari makin mengedepan di tengah kehidupan masyarakat, dan bersamaan dengannya nilai-nilai dan karakter lokal kita juga terasa kian pudar, padahal kita memiliki modal dan identitas, serta benteng budaya yang kokoh. Adakah yang salah dalam mengelola sistem dan mekanisme kebudayaan dalam konteks bermasyarakat kita? Dan mungkin ada lagi sederet pertanyaan kultural lain.

Dalam konstelasi seperti di atas, posisi pendidikan bahasa dan seni sebagai “proses pembudayaan” pun layak dipertanyakan; sudahkah ia menunaikan imperatif ideologis, edukatif, dan kultural sebagai fungsi utama dalam praksisnya? Paling tidak terdapat empat alasan yang dapat dikemukakan dalam kaitan ini. Pertama, dalam keseluruhan dan keutuhannya, kebudayaan merupakan lahan dan habitat utama bagi persemaian benih-benih karakter, tempat identitas dan kepribadian tumbuh dan berkembang.

Kedua, kebudayaan memerlukan upaya pemeliharaan, pengembangan, dan pemberdayaan melalui dan antara lain, pendidikan, utamanya dalam mencerahkan pentingnya norma/nilai, perilaku, dan benda-benda budaya kepada masyarakat. Ketiga, nilai-nilai luhur budaya Pulau Tomia akan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat apabila praksis pendidikan bahasa dan seni dilepaskan dari bingkai dan orientasi budaya. Keempat, fungsi kebudayaan sebagai sumber nilai, bisa saja lamakelamaan akan hilang apabila tidak didukung oleh masyarakat yang sadar dan terdidik. Butir-butir ini menunjukkan adanya hubungan resiprokal dan dialektis antara pendidikan bahasa dan seni di satu sisi, dan kebudayaan pada sisi yang lain; sebuah relasi yang penting bagi upaya penggalian dan pengembangan kearifan lokal dalam konteks nation and character building di era global yang semakin menggila seperti yang kita alami sekarang.

Masuknya beragam nilai yang berasal dari luar melalui beragam piranti moderen, sebagai akibat yang tak terhindarkan dari proses globalisasi, telah memberi warna dan corak tersendiri pada sendi-sendi kehidupan sosial-budaya. Derasnya arus global dari pusat ke “pinggiran” antara lain mengakibatkan munculnya situasi “ketertinggalan budaya”, dan sangat mungkin, “degradasi budaya.” Hal ini merupakan upaya dalam mencapai strata modernis bersamaan dengan membanjirnya informasi. Teknologi yang berkembang begitu pesat dan dengan kecanggihannya menyebabkan pola komunikasi masyarakat berubah dengan cepat. Pengetahuan dan pengalaman manusia dibentuk oleh berbagai informasi yang dapat disimpan dan ditransmisikan dengan kecepatan yang begitu dahsyat dan dapat menjangkau kawasan yang begitu luas. Bahasa lisan digantikan peranannya oleh citra-citra visual. Akibatnya, pandangan masyarakat pun pecah, tercabik, dan salah tempat (dislokasi). Ini semua bisa diperhitungkan sebagai tantangan sekaligus ancaman bagi nilai-nilai, karakter, dan identitas kita sebagai maysarakat yang hidup di atas daratan kecil yang bermartabat.

Apa yang harus dilakukan?. Maka tidak lain adalah bagaimana kita mengenal dan merawat kembali nilai-nilai budaya luhur kita yang telah dibentuk serta mutlak disepakati oleh para leluhur sebagai pedoman atau penuntun untuk menjadi masyarakat yang berkarakter. Sejauh ini secara tidak sadar, kita seperti terasing di kampung sendiri, kebiasaan dalam penggunaan bahasa “Ibu” (bahasa lokal) dalam lingkungan rumah tangga dan di lingkungan masyarakat telah didominasi oleh bahasa “serapan” yang bukan produk asli dari nenek moyang kita. Bentuk penghargaan dalam pranata “homali” dan “Tabe” mulai tak nampak lagi seolah tidak pernah ada. Bentuk konservatif dalam pranata “kaombo” untuk menjaga dan melestarikan alam telah digilas oleh produk teknologi yang serba instant. Apakah itu adalah sebuah kemunduran di dalam proses peradaban?. Adanya kearifan lokal adalah bagaimana kita belajar dan mampu merasionalisasikan dalam pikiran serta pelaksanaanya.

 

     Al Yusra