Alangkah nikmatnya jika dalam membaca cerita ini masih tergelar secangkir kopi di hadapan teman-teman sebangsa dan setanah air. Sebagai kata pembuka di sini tentang kopi adalah, “saya hanya sebagai penikmat”, karena telah gagal menjadi seorang peracik kopi profesional (barista). Tapi itu bukan berarti saya tidak bisa menyeduh, mengaduk, dan menyeruput. Saya yakin bahwa itu sudah merupakan kodrat saya dalam dunia perkopian.
“Kita mulai dari mana dulu nih?”
Oke. Kopi Indonesia telah diakui oleh dunia dan bahkan saat ini berada di puncak kepopuleran. Hal ini dikarenakan selain biji kopi sudah menjadi komoditi yang menjangkau pasaran internasional, juga sudah menjadi teman dalam segala suasana, baik itu pagi, siang, maupun malam, dan dinikmati dalam kondisi dingin maupun hangat tetap sama nikmatnya. Sebagai penikmat kopi, tentu pilihan favorit teman-teman pasti sudah melekat dalam kepala. Mulai dari istilah komersil seperti, Americano atau espresso, latte, cappucinno, ristretto, macchiato, flat white, piccolo latte, maupun istilah ala kampung kita sendiri. Sah-sah saja jika teman-teman memiliki kegemaran pada satu atau bahkan beberapa macam minuman kopi. Tapi satu yang utama, kenikmatan kopi yang sama kita konsumsi itu sebenarnya dipengaruhi dari biji kopinya. Iya kan?
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil biji kopi terbesar dunia urutan ke-4 (setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia) dengan produksi kopi sebesar 11,95 juta karung. Namun di lain pihak, ada tiga negara pemasok impor kopi terbesar untuk Indonesia, yaitu; Vietnam (11,9 juta), Brazil (9 Juta), dan Malaysia (2,2 juta). Dunia mengakui itu bahwa varietas biji kopi Nusantara merupakan varietas pusaka dan istimewa yang bukan hanya di buru oleh pecinta kopi yang ada di luar, melainkan juga di tengah-tengah masyarakat kita sendiri, seperti kopi Arabica dan Robusta. Bisa dibayangkan bahwa kedua varietas tersebut melimpah di Negara kita, di berbagai daerah. Meskipun Negara kita memiliki kurang lebih 270 juta penduduk yang juga merupakan konsumen kopi, tapi ada sekitar 60-70% produksi biji kopi yang diekspor ke luar.
Kita juga harus melihat dari segi jenis produk, produksi kopi negara kita sama dengan Vietnam yang sebagian besar adalah kopi Robusta. Ini berbeda dengan Brazil yang produksi kopinya didominasi oleh kopi Arabica. Akan tetapi, produk kopi negara kita memiliki banyak keunggulan dibandingkan kopi Brazil dan Vietnam. Kualitas kopi Robusta negara kita diakui lebih unggul daripada kopi Robusta dari Vietnam. Bahkan, beberapa kopi Robusta kita mampu mendapatkan nilai tinggi sehingga dianggap sebagai specialty. Di samping itu, kualitas kopi Arabica negara kita juga diakui mampu menyaingi kopi Arabica dari Brazil. Namun, keunggulan yang paling penting dari kopi Indonesia adalah beragam jenis asal kopi yang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Inilah potensi kopi yang tidak dimiliki oleh Brazil dan Vietnam, serta negara pesaing lainnya. Tentu ini harus kita optimalkan.
“Waduh. Cerita tentang Kopi Kahianga gimana nih?”
“Tenang. Ayo, seruput dulu kopinya teman! Pelan-pelan aja ya. Kita mencoba untuk urai dari hulu biar tidak tersesat pada seduhan pertama. Seddaaaaap….!”
Lanjut. Lalu bagaimana agar potensi kopi kita dapat dioptimalkan dalam bisnis? Tentu untuk keberhasilannya harus kita melihat nilai keunggulan (value proposition) yang mengikuti karakteristik segmen pasar tertentu, entah itu pasar yang berskala lokal maupun mancanegara. Di sisi lain, adalah keberlanjutannya (sustainable). Kopi sustainable adalah kopi yang diproduksi dengan prinsip keberlanjutan.
“Kok, kamu bisa tahu sejauh itu ya?”
“Satu kata kuncinya teman. Mmmbaca!”
Banyak orang pintar (pakar) yang mengatakan bahwa kopi specialty juga diperlukan untuk mengikuti prinsip keberlanjutan. Standar proses keberlanjutan yang paling terkenal untuk produk kopi specialty adalah organic. Hal ini akan lebih meyakinkan jika ditunjukkan dengan cerita, foto, dan video, mengenai proses produksi kopi yang sudah sesuai dengan prinsip keberlanjutan ini.
“Ayo dong. Cerita tentang Kopi Kahianga, kapan nih?
“Siap! Penasaran ya? Hihihi…”
“Keep ismail.”
“Upss! Maaf teman. Jangan tersinggung ya. Maksud saya Keep Smile.”
Baiklah. Kita akan bercerita tentang Kopi Kahianga sekarang. Bahwa sesuai dengan brand-nya, kopi ini berasal dari Desa Kahianga, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, dan secara geografis, Desa kahianga terletak pada ketinggian kurang lebih 300 MDPL. Varietas kopi Kahianga sendiri adalah spesies Robusta, karena merupakan keturunan dari beberapa spesies, terutama Coffea Canephora. Kopi Kahianga juga memiliki masa berbunga yang tidak teratur dan membutuhkan 8-11 bulan bagi buahnya untuk masak, hingga menghasilkan biji kopi yang diinginkan untuk siap panen. Selain mengandung banyak kafein sekitar 2,7% dibandingkan dengan Arabica yang hanya 1,5% saja, spesies kopi ini juga tahan terhadap serangan hama penyakit. Sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai kopi sustainable karena bisa dikelola secara oragnik seperti yang saya katakan sebelumnya. Namun yang menjadi keunikan tersendiri dari kopi Kahianga, adalah selain memilki diameter biji yang relatif kecil dari Robusta pada umumnya, juga memiliki kandungan asam (klorogenik) yang hampir setara dengan kopi Arabica pada umumnya, yakni 6,8%.
“Dari mana asalnya Kopi Kahianga?”
“Untuk hal ini saya akan bercerita sedikit sesuai dengan sejarah dan sumber yang saya dapatkan tentang adanya tanaman kopi di Pulau Tomia, khususnya di Desa Kahianga.”
Secara umum, dalam sejarah dikatakan bahwa biji kopi mulai diperkenalkan di Nusantara oleh Belanda melalui Organisasi Perdagangannya (VOC) pada abad ke-17 dan abad ke-18 atau tahun 1600-1700san, dan biji-biji kopi tersebut dibawa masuk dari Malabar (Afrika). Awalnya mereka mencoba melakukan penanaman di sekitar wilayah kekuasaan mereka, yakni di Batavia. Namun kemudian dengan cepat melakukan ekspansi produksi kopi ke wilayah Bogor dan Sukabumi di Jawa barat. Hal ini dilakukan karena Indonesia mulai diketahui bahwa memiliki tanah yang subur, serta memiliki iklim yang ideal untuk produksi kopi, sehingga karenanya bukan hanya di wilayah daratan Pulau Jawa mereka membuka lahan perkebunan kopi, melainkan juga Sumatera dan Sulawesi. Tak henti sampai di situ, mereka juga mulai melakukan penyisiran hingga ke Indonesia bagian timur, seperti Maluku dan Papua.

Di lain pihak untuk masyarakat lokal Pulau Tomia, terutama di Desa Kahianga, masih meyakini hingga saat ini bahwa kopi yang tumbuh di wilayah daratan Pulau Tomia itu dibawa oleh para perantau lokal yang sebelumnya melakukan kegiatan produksi kopra di daratan Maluku. Dan bisa dipastikan bahwa kopi oleh para perantau lokal, sudah menjadi sajian istimewa yang wajib dikonsumsi sebelum bekerja, di saat sedang melakukan kegiatan dan bahkan ketika sedang ngobrol santai. Sehingga dari situlah mereka mencoba mengambil biji-biji kopi tersebut untuk ditanam di wilayah masing-masing, di Pulau Tomia.
“Tunggu. Ada cerita menarik di sini teman, yang membuat saya tidak sepaham dengan sejarah ataupun cerita tersebut.”
“What?!”
“Iya, dan sumbernya sangat menguat bagi saya. Maaf ya, jika kita tidak sepaham. Saya kira beda persepsi itu hal biasa lah ya. Anggap saja ini sekedar pembanding.”
Baik. Pada tahun 2017 yang lalu, ketika berkunjung ke salah satu daerah di Pulau Jawa, saya mendapatkan sebuah buku yang ada di perpustakaan pribadi seorang sahabat, dimana dari tampilan sampulnya sedikit kusut, sudah saya pastikan bahwa buku tersebut merupakan buku “klasik” dan masih cetakan asli (versi Inggris). Sampulnya berwarna cokelat, ada tulisan judul “All About Coffee”. Penulisnya adalah William H. Ukers, dan buku tersebut menceritakan sejarah kopi, mulai dari minuman kopi sebagai bentuk penghargaan klasik, hingga kopi sebagai minuman yang paling dicintai di dunia. Dalam buku tersebut, penulis (William H. Ukers) telah melakukan penelitian tentang kopi selama puluhan tahun mulai dari Eropa, menyisir ke wilayah Asia Tengah, Afrika, hingga ke Nusantara. Buku tersebut oleh penulis diterbitkan di negara asalnya, yaitu Inggris pada tahun 1250. Bisa dibayangkan, betapa tuanya usia buku tersebut.
Di sini saya tidak akan menceritakan isi buku tersebut secara detail. Namun ada beberapa kutipan yang menarik sehingga menguatkan saya untuk lebih merujuk pada pemahaman sejarah kopi yang ditulis oleh William H. Ukers dibanding sejarah yang diukir oleh Belanda (VOC), maupun hikayat yang saya dapatkan dari sumber lokal. Dan saya akhirnya menganggap bahwa hal ini adalah The Hidden Files of Coffee. Semoga saja saya tidak salah menerjemahkannya, kutipan itu mengatakan bahwa;
“…ketika melakukan perjalanan ke Yaman, tiba-tiba saya mendapatkan keluarga kerajaan Inggris sedang menikmati hidangan kopi yang diracik oleh seorang Mursyid dari Turki. Di sana Ratu kami sangat terpesona dengan aroma dan rasa daripada Java Mocca yang dihasilkan oleh si Mursyid.”
Nah, dari kutipan tersebut menguatkan saya bahwa William H. Ukers sudah melakukan penelitian tentang kopi di Nusantara, jauh sebelum masuknya Belanda (VOC) seperti yang ditulis dalam sejarah yaitu, pada tahun 1600-1700an. Melalui kutipannya di atas, ia juga mengatakan bahwa Ratu kerajaan Inggris terpesona dengan aroma dan rasa daripada kopi Java Mocca. Dalam bukunya kata “Java” adalah identitas Nusantara (dalam hal ini adalah Pulau Jawa). Sedangkan “Mocca” adalah sebutan dari keluarga kerajaan Inggris untuk pelabuhan kota Yaman yang memiliki warung kopi terkenal. Sedangkan masyarakat Yaman sendiri menyebut pelabuhan tersebut dengan “Makkah”. Oleh William H. Ukers dalam bukunya pula mengatakan bahwa Java Mocca merupakan minuman favorit para keluarga kerajaan Inggris, karena perpaduan antara kopi Java (nusantara) dan kopi Mocca (Yaman). Maka tak heran jika para keluarga kerajaan Inggris melakukan pelayaran mengarungi samudera datang ke Yaman hanya untuk menikmati kopi Java Mocca tersebut.
“Wokeh. Cerita tentang kopi Java Mocca kita sudahi dulu sampai di sini. Lanjut lagi ke Kopi Kahianga.”
Tapi dari penggalan cerita saya di atas, seharusnya kita sudah bisa mendapatkan perbandingan sejarah yang diklaim oleh Belanda (VOC) pada tahun 1600-1700an dan perjalanan riset seorang Wiliiam H. Ukers melalui bukunya yang diterbitkan pada tahun 1250. Saya pun pada akhirnya menarik kesimpulan bahwa tanaman kopi yang tersebar di Indonesia adalah tumbuhan alami. Bukan dibawa masuk oleh Belanda (VOC) dari Malabar, Afrika.
Lanjut. Sebenarnya kopi Kahianga oleh masyarakat lokal, pada awalnya hanya dibudidayakan di pekarangan rumah saja, dan hasilnya untuk dikonsumsi secara rumahan. Dengan maraknya isu bisnis kopi di berbagai daerah, pada tahun 2015 lalu, saya dan teman-teman (yang tergabung di Kahianga Membali) mencoba mengangkat isu kopi Kahianga ke ruang pasar. Sebagai langkah awal, kami mulai mendapatkan tawaran dari salah satu perusahaan di daerah BSD – Tangerang Selatan. Kami pun mengrimkannya sesuai dengan permintaan awal sebanyak 10 kg sebagai prototype, dan dari perusahaan tersebut mencoba kembali mempromosikannya dengan brand yang berbeda yaitu, “Dewi Sekopi Kahyangan”. Setelah pengiriman untuk ketiga kalinya, pihak perusahaan meminta pasokan dalam per tiga bulan sebanyak 500-700 kg. Kami pun kebingungan dengan hal ini. Bagaimana tidak? Dari tanaman kopi yang dihasilkan oleh pekarangan masyarakat saja tidak mampu untuk memenuhi permintaan sebanyak itu.
Dengan diterimanya oleh pasar, kami pun masih penasaran tentang kandungan yang ada pada kopi Kahianga, terutama untuk saya pribadi. Hingga akhirnya saya mendapatkan keberuntungan, bahwasanya ada seorang relawan yang menawarkan diri untuk mengajar di Sikola Kampo saat itu. Relawan tersebut berasal dari Vietnam, ia bernama Elisabeth Whu. Dari jejak pengalaman yang dikirimkan (melalui CV), ternyata dia pernah menjadi seorang barista di sebuah café (La Viet Coffee) yang ada di Vietnam, dia juga selalu terlibat sebagai penelis dalam event Barista Team Championship se-Asia tenggara yang diselenggarakan di Vietnam. Selain itu, dia juga adalah seorang lulusan sarjana pertanian. Cantik pula.
“Huss! Yang serius!”
“Iya. Maaf.”
Selama ia berada di Pulau Tomia, saya manfaatkan pengalamannya dengan menjadikan biji kopi Kahianga sebagai bahan untuk eksperimen. Ketika pertama kali mencoba merasakan biji kopi Kahianga (green coffee), ia dikejutkan dengan rasa yang dihasilkan biji kopi tersebut. Sambil mengunyah, ia berucap;
“Noooo! I should have found this coffee taste at the height of a thousand.”
Saya pun menyimaknya dengan jelas, bahwa baru saja ia mengatakan bahwa rasa kopi yang dikunyahnya saat itu seharusnya di dapatkan pada ketinggian 1.000an DPL. Tentu saja seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa kandungan asam yang ada pada kopi Kahianga itu setara dengan kandungan asam yang ada pada spesies kopi Arabica.
“Kok bisa ya?”
Itulah keunikan daripada kopi Kahianga. Dan tentu saja kopi Kahianga selain menghasilkan aroma dan cita rasa yang khas, di sisi lain varietas kopi ini juga saya sebut sebagai kopi archipelago. Kenapa tidak? Secara geografis kopi ini tumbuh di dataran tinggi Pulau Tomia dengan unsur tanah kapur. Apalagi Kepulauan Wakatobi, terutama Pulau tomia memiliki hamparan karang yang luas dan panjang. Secara konservasi kopi Kahianga memiliki unsur yang sangat mirip dengan kopi Robusta Malabar dan unsur Malabar ini digunakan untuk espresso, karena kopinya enak untuk di-blend. Keunggulan dari unsur geografis inilah yang penting harus dijaga.
“Maksudnya?”
Yah, kalau terumbu karang kita hilang, oksigennya akan ikut hilang. Maka tidak akan ada lagi ciri khas kopi Kahianga yang sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas. Kopi Kahianga itu sendiri adalah perjalanan panjang.
“Terus?”
“Kita akhiri dulu ceritanya sampai di sini teman. Dan kopimu juga akan segera habis.”
“Waduh. Jadi gak asyik nih!”
“Sudahlah. Nanti kita cerita lagi. Akan lebih menarik jika kita tuntaskan cerita ini di Desa Kahianga. Saya tunggu kedatanganmu di sana. Oke?”
Al Yusra

