Oleh: La Ode Wahyu Densaputra
Aksi penolakan kenaikan harga BBM terus dilakukan, berbagai gerakan aksi mahasiswa dan masyarakat disetiap kabupaten dan kota masih masif. Namun sering kali kita tidak melihat masalah secara utuh dan hanya melihat satu sudut pandang dan mengabaikan sudut pandang yang lain. Tulisan ini hanya merangkum informasi dari beberapa sumber yang diberitakan, seperti media youtube, website, dan media sosial lainnya. Rangkuman ini hanya mengambil beberap isi berita, yang penulis anggap penting untuk dijadikan ringkasan dan kemudian disusun dalam bentuk paragraf. Dan diharapkan dapat menambah wawasan dan daya pikir kritis pembaca.
Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) tidak terlepas dengan kondisi ekonomi-politik dunia. Sebagaimana yang disampaikan oleh Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan Bapak Abraham. Bahwa PBB menilai dampak akibat perang Rusia-Ukraina, terdapat 1,7 miliar masyarakat dunia yang terdampak ekonomi, 550 juta jatuh miskin akibat adanya gejolak kenaikan harga energi yang salah satunya adalah bahan bakar minyak (BBM), dan 215 juta masyarakat dunia jatuh krisi kelaparan dan kekurangan gizi. Dampak tersebut bukan hanya di Indonesia tapi terdapat 107 negara yang merasakan kenaikan harga BBM.
Kondisi global yang tidak stabil juga mempengaruhi kondisi nasional Indonesia, meskipun harga minyak dunia turun, dari US$ 100/barel ke US$ 80/barel, namun menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani anggaran subsidi dan kompensasi BBM akan terus mengalami kenaikan. Dari Rp 153 triliun naik menjadi Rp 502,4 triliun, anggaran tersebut diperkirakan habis pada bulan oktober. Sementara untuk menutupi kebutuhan BBM sampai pada bulan desember dibutuhkan anggaran sebesar Rp 200 triliun, jumlah yang begitu besar menimbulkan APBN Jebol artinya terjadi defisit. Sehingga pemerintah membuat kebijakan menaikkan harga BBM. Kalau berdasarkan pernyataan Adian Napitupulu dalam acara ILC bahwa kenaikkan BBM ini juga tidak terlepas dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Tak terelakan naiknya harga BBM sangat berdampak pada masyarakat, bagi pekerja ojek online naiknya harga BBM sangat memprihatinkan, sebab pendapatan dari ojek online hanya bisa menutupi harga bahan bakar kalaupun lebih hanya mencukupi kebutuhan sehari. Selain ojek online, juga berdampak naiknya harga kebutuhan pokok terutama sembako, tentu hal ini dapat menurunkan daya beli masyarakat. Bahkan para pengamat politik dan ekonom memprediksi jutaan orang akan jatuh miskin.
Dampak tersebut banyak para politisi, ekonomi, LSM, dan elemen masyarakat menolak kebijakan pemerintah dalam menaikan harga BBM.
Bagaimana langkah pemerintah untuk mencegah agar masyarakat tidak jatuh miskin ekstrim dan menekan angka kemiskinan, pemerintah menyalurkan 3 skema untuk memulihkan ekonomi, yang pertama bantuan sosial dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 150.000/ bulan selama empat bulan. Upaya tersebut juga untuk menjaga daya beli masyarakat. Yang kedua subsidi upah sebesar Rp 600. 000 dengan syarat peserta penerima upah subsidi harus teregistrasi di BPJS Ketenagakerjaan dan menjadi anggota aktif, ketiga pemberdayaan ekonomi membuka investasi dalam pembangunan infrastruktur.
Sekian dari rangkuman infromasi kenaikan harga BBM, semoga tulisan ini bisa menambah wawasan pembaca. Penulis juga ingin menyampaikn bahwa tulisan diatas bukan menjadi kebenaran yang mutlak, sewaktu-waktu informasi dapat berubah sebagaimana perubahan situasi sosial dan ekonomi.
***********

