Oleh : La Ode Wahyu Densaputra
Jika pembangunan pantai Yoro selesai, apa yang bisa dilakukan masyarakat? Apakah membiarkan pantai Yoro begitu saja, menjadi tontonan dan buah bibir masyarakat Wali dan wakatobi pada umumnya, atau dampak buruk sosial yang ternyata Yoro hanyalah boneka dan tidak memiliki manfaat bagi masyarakat, khususnya Wali dan Jayamakmur.
Bersyukur pembangunan pantai sesuai dengan masterplannya, setidaknya bisa menjadi ikon kelurahan Wali, dan kita patut bangga. Namun tidak cukup kalau hanya melihat sudut pandang fisik, sebab yang fisik tidak memberikan esensi terhadap kebermanfaatan. Bangunan yang indah, tulisan-tulisan yang didesain hanyalah pendukung atau bahkan bisa jadi adalah cara halus untuk menindas masyarakat kecil.
Khawatirnya ialah masyarakat sama sekali tidak merasakan manfaatnya, atau hanya sekolompok kecil yang bisa rasakan manfaatnya, dan itu tidak terlepas dengan kepentingan. Mirisnya sebagian masyarakat tidak tau atau tidak paham apa esensi dan tujuan pembangunan pantai Yoro, mungkin kalau kita bertanya kepada masyarakat awam, Apakah masyarakat paham Mengapa pantai Yoro dibangunkan berbagai fasilitas seperti yang tertera di masterplan, mungkin sebagian akan menjawab tidak tahu atau hanya menjawab karena itu adalah janji politik.
Tulisan ini tidak beranggapan bahwa pembangunan dipantai Yoro adalah sesuatu yang buruk atau tidak tepat. Tapi sebagai bagian dari masyarakat, kita harus berpikir dampak apa yang akan dirasakan oleh masyarakat Wali dan Jaya Makmur, khwatirnya hanya menjadi penonton di negeri sendiri atau tertindas ditanah kelahiran.
Ini adalah tantangan bagi masyarakat, pemerintah bahkan tokoh adat. Jika pembangunan pantai Yoro tersebut tidak dirasakan oleh masyarakat, baik ekonomi dan sosial saya pikir kita berhenti fanatik terhadap tokoh dalam pesta demokrasi, maaf agak melenceng ke pesta demokrasi (pemilihan), bukan berarti saya membenci tokoh dalam pesta demokrasi.
To the point saja, Pembangunan pantai Yoro adalah tantangan dan peluang. Tantanganya ialah ketika masyarakat tidak terlibat dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan, Yoro hanya menjadi buah bibir saja tanpa ada sikap dan aksi masyarakat untuk mengelolanya. atau lebih mirisnya tantangan ini berpotensi ricuh ditengah-tengah masyarakat, saling mencurigai, menyalahkan hingga hubungan masyarakat tidak harmonis. Yang lebih parahnya lagi ialah ketika pemuda yang bernotabene pendidikan SMA atau bahkan jenjang lebih tinggi, membiarkan tantangan itu terjadi tanpa ada gerakan cepat, mencegahnya agar tidak terjadi. Semoga tidak terjadi dikemudian hari. Amin.
Harapannya masyarakat bisa memikirkan ini agar pembangunan pantai Yoro secara berkelanjutan memiliki impact (dampak) politik, ekonomi, dan sosial. Secara politik, masyarakat mengelola dan mengurus sendiri dan secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan, sosial membuka lapangan kerja. Tidak ada pilihan lain selain masyarakat harus terlibat, dan pemuda adalah penggerak untuk memberi tahu, memberikan penjelasan, saya pikir bagian dari tujuan pendidikan ialah mengabdi dimasyarakat.
Sudah saatnya masyarakat, tokoh adat dan pemerintah perlu menyusun konsep dan gagasan, persiapan apa yang bisa dilakukan oleh maayarakat agar pantai Yoro benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Tentunya konsep yang akan dibangun tidak terlepas dengan pariwisata, tinggal memilih metode apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat. Apakah masyarakat sebagai agen utama dalam hal pengelolaan atau sebagai pekerja dibawah industri pariwisata lain. Dan yang lebih utama adalah kolaborasi masyarakat dan pemuda, apabila diajak untuk duduk bersama dalam membahas gagasan, yakin bahwa pemuda tahu dan paham akan posisinya dalam hal membahas konsep atau gagasan.
Secara kuantitatif, pemuda Wali baik tamatan SMA maupun Perguruan Tinggi sudah mumpuni. Dan itu merupakan potensi sumber daya manusia yang apabila diberikan ruang untuk memikirkan kelurahan Wali saya pikir akan berdampak positif, hanya saja ruang itu tidak pernah terbentuk.
************

