Oleh : S. Pipin
Waktu itu, La Juma Ali masih kecil kala orang tuanya menuturkan kisah-kisah kehidupan masyarakat kala bermukim di gunung Wangkawaibho. Mungkin saja waktu itu tidak terlintas dalam pikirannya bahwa cerita kehidupan semacam itu tidak akan penting untuk diceritakan di masa kini. La Juma Ali tidak akan mempersoalkan kehidupan orang tuanya semasa di pegunungan Wangkawaibho. Mungkin saja akan terlintas bayangan penderitaan dan kesengsaraan untuk menggambarkan kondisinya saat itu. Tak terbayangkan untuk makan saja orang tua La Juma Ali hanya mengandalkan hasil kebun olahan ubi kayu (kasubia), ubi jalar (hopa), dan sayur-sayuran seadaanya seperti daun kelor, daun ubi kayu, dan lain sebagainya yang dapat diperolehnya dari hasil berkebun dan tumbuh liar di hutan. Makan makanan olahan seperti itu bisa jadi adalah gambaran kesengsaraan di zaman ini tetapi sesungguhnya adalah kemandirian pangan pada zamannya tanpa ketergantungan dari luar.
Wangkawaibho dahulu adalah salah satu perkampungan sebelum kemudian masyarakatnya beransur-angsur pindah ke wilayah pesisir. Menurut cerita masyarakat setempat, orang tua La Juma Ali merupakan orang terakhir pindah ke wilayah pesisir. Setelah kemudian Ia merantau di Maluku dan menikah di pulau Sanana.
La Juma Ali kembali ke Binongko setelah bertahun-tahun bermukim di Kabupaten Sanana, Maluku. Sebenarnya La Juma Ali pernah ke Binongko beberapa tahun lalu, namun kali ini Ia datang bersama istri, anak dan cucunya. Kedatangan bersama keluarganya ke Binongko hanya untuk memperkenalkan anak cucu kepada sanak keluarga dan sekalian berziarah ke makam orang tuanya dan orang-orang terdekatnya di masa lalu.
Di Binongko, La Juma Ali tinggal di rumah adik perempuannya bernama Wa Muraeni. Banyak sanak keluarga yang harus Ia kunjungi. Keluarga La Juma Ali tersebar dari kelurahan Wali hingga di desa Jaya Makmur dan desa Wakarumende. Tak cukup rasanya dalam satu hari Ia kunjungi satu rumah. Banyak cerita dan kerinduan tercurahkan kepada sanak keluarganya. Sambil mempererat tali kekeluargaan, Ia juga tak lupa untuk berziarah di makam orang tuanya. Ia berencana untuk memperbaiki makam orang tuanya yang semula hanya dikelilingi batu menjadi bertembok beton. Rencana tersebut dapat diselesaikannya hampir kurang lebih satu bulan Ia berada di Binongko.
Selama itu pula aku terhitung banyak kali bertemu dan bercerita bersamanya. Bercerita bersama La Juma Ali seperti mengantarkanku pada suatu kondisi perkampungan Wangkawaibho waktu dulu. Dalam suatu malam diantara malam-malam berlalu, kami duduk bercerita hingga larut, ada banyak tema yang tidak teratur bermunculan. Sosial-budaya, agama, pengalaman hingga dunia yang mungkin belum pantas dijangkau oleh anak se usiaku.
Sosial budaya, kami banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat gunung termaskud perkembangan kesenian dari masa ke masa. “Dahulu masyarakat itu suka ‘pigule-gule’ dan ‘manari banda’ dalam rangkaian acara pingkamama’a” ungkal La Juma Ali. Pingkamama’a adalah salah satu kegiatan dari rangkaian perayaan hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Silaturahmi, kesyukuran, kebahagian dan cinta sesunguhnya telah terbingkai dalam acara pingkamama’a. Aku membayangkan kekeluargaan masyarakat terpupuk dengan saling mengunjungi dari rumah ke rumah yang lain. Aku membayangkan ada suatu hidangan lezat tersaji dalam katea masing-masing rumah yang mana dapat menjadi sarana memperkecil kesenjangan ekonomi. Aku membayangkan terpancar rasa bahagia yang begitu tinggi ketika masyarakat berbondong-bondong saling berjabat tangan dan saling merangkul. Aku membayangkan sepasang muda-mudi saling berbagi selendang sebagai tanda ikatan kasih sayang satu sama lain. Dan aku membayangkan masih banyak lagi hal-hal yang dapat dicipta dari pingkamama’a dan diam-diam aku mendamba masa itu.
Soal agama La Juma Ali tidak terlalu banyak menyentuh wilayah ini, tetapi sekali bersentuhan rasanya tinggi sekali pemahaman yang telah ia capai. Kangkilo adalah salah satu topik yang Ia bahas tanpa jeda. Kangkilo pasalnya adalah hal dasar dalam memulai suatu kehidupan. Baginya kangkilo merupakan suatu pondasi untuk mendirikan sebuah rumah yang kokoh dalam berkeluarga maupun bermasyarakat. Ia baru saja mengupas bagian kulit dari yang diketahuinya namun rasanya tidak cukup untuk dibahas dalam semalam, seminggu, sebulan, atau bahkan setahun karena dari pemahaman demikian akan memunculkan pembahasan ikutan yang teramat panjang.
Kini La Juma Ali dalam perjalanan kembali ke pulau Sanana, setelah pertemuan kami yang terbilang singkat yang kurang lebih satu bulan. Selama itu pula kami becerita ketika ada kesempatan, dimana hampir setiap hari atau malam duduk sambil mengisap rokok dan kopi kapal api hasil adukan sendiri. Kepada La Juma Ali aku ingin menyampaikan bahwa cerita kita belum selesai, masih banyak hal yang mesti aku pelajari. Mudah-mudahan dipertemuan berikutnya akan banyak hal-hal terungkap untuk bekal hidup yang teramat panjang ini. Sampai bertemu diperjumpaan selanjutnya.
***********

