Sarpin, 22 Februari 2022
Kakekku berkata suatu pagi selepas shalat subuh, “Nak, kelak menjadi dewasa ingatlah pada satu hal, yang kau lakukan setiap harinya adalah tolak ukur keberhasilanmu, maka mulailah kebaikan sejak pagi hingga pagi kembali“. Waktu itu usiaku baru menginjak 10 tahun. Seorang bocah kecil yang suka mendengar dongeng pengantar tidur. Kebiasaan tidur di rumah kakek, dimanfaatkan olehnya untuk memberi pelajaran-pelajaran kemanusian yang tak ternilai harganya. Tentu saja aku rindu nilai-nilai itu. Pernah suatu waktu, shalat dzuhur lah kami berdua di rumah kakek. Aku berdiri tepat dibelakannya, saat kakek mengucapkan “assalatu laa ilaha ilallah” kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri dan mendapatiku tepat dibelakangnya. Kakek kemudian memperbaiki posisi shalatku tepat disampingnya sedikit kebelakang sekitar satu langkah untuk ukuran orang dewasa. Di akhir shalat, kakek menyampaikan petuahnya soal posisi shalat berjamaah jika hanya dilakukan berdua (imam dan satu orang makmum).
Semasa kecil, kakek selalu menjadi guru spiritual bagiku. Menjadi seorang modim pada sebuah masjid di kampungku sangat berat. Pada diri modim memikul tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap gerak dan tingkah lakunya. Lebih tepatnya menjadi modim harus mampu memikul beban orang banyak. Modim menurut paradigma masyarakat adalah penjaga kehidupan sosial masyarakat.
Aku tahu, kakek bukanlah orang serba tahu dan serba bisa. Pada suatu kesempatan kakek menyampaikan petuanya kepadaku. “Belajarlah yang banyak, biar kau dapat membaca“, katanya. Kakek sadar betul bahwa membaca dapat menjadi bekal untuk perjalanan yang panjang ini. Itulah sebabnya kakek adalah salah seorang yang antusias membangunkanku pagi-pagi saat menjelang keberangkatanku di Kendari untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Kakek mengantarkanku dengan do’a khasnya saat itu. “Sampai di Kendari tutuplah matamu rapat-rapat, jangan terlalu banyak menoleh kiri dan kanan“, pesannya. Belakangan aku baru tahu bahwa yang dimaksud kakek adalah di kota banyak hal-hal yang serba ada, sedang kita orang yang tidak mampu untuk memiliki semua yang kita lihat itu, maka puasa (tutup mata rapat-rapat) adalah salah satu kuncinya.
Berkisah tentang kakek seolah tidak ada habisnya. Pernah suatu ketika aku terlambat mendirikan shalat di masjid dan mendapati imam shalat sedang membacakan surah pendek pada rakaat kedua. Aku membentangkan sajadah tepat dibelakang kakek disebelah kanan disela-sela dua orang jamaah. Saat itu aku melihat shaf pertama sudah penuh oleh jamaah shalat maghrib, maka tidak memungkinkan lagi bagiku untuk ikut pada shaf itu dan aku memilih untuk membentuk shaf kedua seorang diri. Rukuk pada rakaat kedua kakek mendapatiku seorang diri di shaf kedua. Tanpa pikir panjang kakek melangkah kebelakang dan berdiri tepat disamping kiriku di shaf kedua. Usai shalat kakek memberitahuku bahwa pamali katanya membentuk shaf sendiri disaat sedang shalat berjamaah.
Saat itu awal ramadhan dan umat islam di wajibkan untuk berpuasa. Pada usia kanak-kanak aku termasuk anak yang manja. Kakeklah satu-satunya alasan bagiku untuk kuat menjalankan ibadah puasa. Saat itu aku percaya bahwa kakek memiliki do’a khusus untuk tidak merasakan lapar dan haus saat berpuasa. Aku selalu menyisakan sedikit makanan (seukuran satu sendok makan) untuk diberi do’a oleh kakek sebagai makanan penutup saat sahur di bulan puasa dan segelas air yang telah kakek berikan do’a untuk memulai puasaku saat itu. Padahal aku juga salah satu orang yang kuat menghafal termasuk do’a saat sahur dan do’a berbuka puasa tapi kakek tidak pernah mau tau soal itu. Begitulah kakek, selalu ada cara untuk memberikan pelajaran kemanusian dan spiritual bagiku padahal kakek sendiri tidak bisa baca dan tulis.
********

