Oleh S. Pipin
Pada masanya oang-orang kampung pada umumnya memiliki nasib yang sama ketika menceritakan soal makanan. Ketika sekelompok komunitas anak muda bertanya kepada orang-orang tua soal makanan diwaktu dulu. Sebagian wajah-wajah orang tua itu membayangkan suatu kondisi dimana nasi adalah makanan yang langkah untuk dikonsumsi. “Hanya orang-orang tertentu”, tuturnya. Bahkan ada yang berkisah dalam setahun mereka tidak makan nasi. Lantas makan apa orang-orang kampung di polosok Wakatobi sana??
“Kami makan nasi hanya saat lebaran saja“, ibu-ibu yang lain berkisah. Kejadian yang demikian itu belum lama terjadi. Beras masuk secara besar-besaran ke pulau Binongko seiring dengan program beras raskin yang dicanangkan oleh pemerintah. Ukuran kesejahteraan oleh pemerintah saat itu adalah konsumsi karbohidrat yang tinggi yang dimanifestasikan dengan beras. Apapun itu saya suka menyebutnya dengan berasnisasi.
Petani di kampung-kampung pulau Binongko tidak menanam padi bahkan tidak akan tumbuh walau dipaksa ditanam. Di kebun-kebun petani hanya menanam jenis umbi-umbian seperti singkong (kasubia), Ubi Jalar (hopa), seko, sagu, dll. Bagi orang kampung saya ingin menyebutnya dengan makanan pokok.
Ada satu orang anak menangis sejadi-jadinya dan beberapa kali sakit kalau dipaksa untuk makan sankola (olahan singkong). Hal itu kedengarnya agak lucu namun tidak untuk ditertawakan. Karena itu soal selera masing-masing individu dan itu dijamin oleh undang-undang HAM. Ahhh, tapi apa pentingnya bicara HAM kalau toh pada akhirnya saya harus terus-terusan makan nasi yang tidak ditanam petani di kampungku.
Lalu cerita kemudian berpindah pada potret moderinisasi. Yah, sankola, hopa, sagu tadi adalah potret penderitaan dan kuno sedang beras dan mie instant adalah potret modern.
Orang-orang kampung merasa dengan makan nasi atau membeli beras itu berarti telah berhasil keluar dari bayang-bayang kemiskinan masa lalu. Pelan-pelan dikebun-kebun petani makin ditumbuhi rerumputan. Petani-petani makin kesini makin berkurang. Di gunung-gunung biasanya ramai oleh wale–wale milik petani kini sudah sunyi bahkan telah lenyap. Kebun di gunung Yalu, Lameria, Watampida, Pacua, Towua, dan lain sebagainya sudah tidak terdengar lagi teriakan anak-anak saat musim panen dan libur sekolah.
Saya membayangkan lagi saat masa kecilku dahulu ketika mama sebelum ke kebun pada sore hari mimintaku untuk masak sankola yang bahannya sudah disiapkannya. “I tambi ane’e kaparu po’olimo pora’e rike, ane cubhangu nayide-yide ari kadimpo pereka’e”, ucap mama padaku kala istrahat pulang bersekolah di SDN 1 Wali dulu. Mungkin saja kalimat-kalimat semacam itu sudah berganti objek atau mungkin juga sudah tidak terdengat lagi. Ahhh, sungguh saya merindukan masa-masa itu.
25 Januari 2023

