Secuil Kisah Nelayan di Wakatobi

Sarpin, 22 Februari 2022

Sore itu sekitar pukul 17.45 WITA. Angin barat bertiup dengan kencangnya, tampak begitu tidak bersahabat dengan nelayan di kampungku. Matahari sebentar lagi akan bersembunyi di balik bukit Koncu Pacua Wali. Dari kejauhan terdengar bunyi dayung yang digesekan pada dinding koli-koli (sampan kecil/perahu yang biasa dipakai nelayan untuk melaut) pertanda adanya aktifitas mendayung oleh nelayan. Satu dua kali ayunan dayung itu dihempaskan selalu diikuti dengan lantunan lagu-lagu daerah. Seolah antara dentuman dayung kepada dinding koli-koli dan nyanyian menyatu menjadi tembang penghibur di tengah perjalanan pulang melaut.

Dari koli-koli tampak satu orang Pak Tua dan satu orang anaknya yang bungsu sedang bergembira atas ikan hasil tangkapannya sore itu. Sang anak sedang menghitung jumlah ekor ikan momar (jenis ikan layang) yang tergelatak di dalam koli-kolinya. “Paman (panggilan anak kepada ayahnya), ada 20 ekor ikan yang kita tangkap hari ini”, lapor anak kepada Pak Tua. Pak Tua hanya tersenyum tanpa ada ucapan sedikitpun keluar dari mulutnya. Tak lama berselang dari arah depan muncul salah seorang nelayan, menit demi menit semakin mendekat ke arah koli-koli milik pak Tua. “Paman, ada umpan kah ?, tanya nelayan kepada Pak Tua. “Iya, ada. Kemarilah”, jawab Pak Tua. Begitulah seterusnya hingga berjumlah lima orang nelayan yang memperoleh umpan dari Pak Tua soreh itu. Nelayan yang memperoleh umpan dari Pak Tua tidak lupa mengucapkan terima kasih dan Pak Tua merasa bahagia dapat berbagi umpan kepada kawan nelayannya..

Satu persatu nelayan itu menjauh dari perahu Pak Tua. Pak Tua dengan anaknya mendekat ke arah pendaratan sedang nelayan lainnya menuju arahnya masing-masing. Pada kondisi cuaca sedang baik biasanya nelayan melaut hingga menjelang pagi. Nelayan yang melaut hingga menjelang pagi adalah nelayan yang menangkap jenis ikan kwe atau oleh masyarakat Wali, Binongko, Kabupaten Wakatobi menyebutnya pindola. Selain pindola, masyarakat juga mengenal teknik pikasora. Menangkap ikan dengan cara pikasora dilakukan pada saat malam hari dan dalam kondisi bulan terang. Pada bulan dalam kondisi gelap sebenarnya nelayan juga bisa menangkap ikan dengan cara pikasora namun tidak sebaik pada saat bulan terang. Sementara dalam kondisi gelap para nelayan biasanya menangkap ikan dengan cara pikabua. Ikan-ikan yang dapat diperoleh dari hasil pikasora dan pikabua ini adalah ikan kakap merah, jenis ikan kerapu, katamba dan ikan-ikan berjenis kakap, serta jenis-jenis ikan lainnya.

Sore itu pak Tua hanya menangkap ikan momar. Ikan momar selalu menjadi sasaran nelayan untuk dijadikan umpan. Menurut para nelayan, ikan momar merupakan makanan favorit ikan kerapu, kakap merah, katamba, dan ikan-ikan lainnya.

Pak Tua dengan anaknya yang bungsu, Ones namanya menepikan perahunya disaat orang-orang di masjid Al Khairat Wali sedang melaksanakan shalat berjamaah dengan khusyu. Lantunan ayat demi ayat oleh Imam shalat terdengar merdu di telinga. Suara itu semakin jelas terdengar sampai pak Tua dan anaknya tiba di rumah.

Sesekali Ones mengeluh karena kebiasaan pak Tua yang suka membagi hasil tangkapannya kepada nelayan yang lain. “Paman ini bagaimana, ikan yang diperoleh sudah mau habis dibagi-bagi”, keluh Ones. Sambil mendayung pelan, Pak Tua melempar senyum kepada anaknya. Tidak ada suara darinya. Senyuman pak Tua membuatkan tanya pada Ones. Keluh ini diceritakan Ones ketika sedang makan bersama setelah sepulang dari melaut.

Makan bersama sepulang dari melaut sudah menjadi hal menarik bagi Pak Tua. Pada saat itulah Pak Tua ingin mengungkapkan kebahagiannya dapat hidup bersama anak-anaknya meski tak disampaikannya. Mendidik tiga orang anak seorang diri bukanlah pekerjaan yang gampang. Namun hal itu dilakukan Pak Tua tanpa protes pada kehidupan. Menjadi nelayan bagi Pak Tua adalah profesi yang menyenangkan. Ia merasa bebas dari hiruk pikuk kebisingan. Di laut menjadi tempat refresing ternyaman dan dapat mengaktifkan imajinasinya. Selain melaut Pak Tua mengerjakan usaha mencetak angin-angin (lubang ventilasi) dan menjualnya kepada masyarakat yang membutuhkan.

*******

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *