SEPUCUK SURAT UNTUK WA ODE

Engkau tahu Wa Ode, Aku hanyalah anak dari seorang ibu yang suka berkebun dan ayah yang suka berlayar namun sesekali berkebun ketika sepulang dari berlayar. Dari hasil berkebun itu aku dibesarkan. Memperoleh penghidupan dari yang ditanam di kebun-kebun di samping kampung dan sesekali makan nasi dari beras yang ditanam oleh petani yang tidak aku tahu darimana asalnya. Dan tahukah kau Wa Ode, hasil kebun petani di kampung telah mengalami penurunan produksi. Belakangan ini hasil olahan kebun seperti hopa, santa, kasubia telah bernilai tinggi. Makanan yang dahulunya menjadi kebanggaan leluhur itu kini menjadi barang langka. Engkau pasti tahu teori ekonomi yang membentuk itu semua bukan ??. Namun, Wa Ode, sesungguhnya bukan soal itu yang mendorongku untuk menuliskan surat ini kepadamu tapi soal kita, yah soal aku dan kamu.

Wa Ode, engkau pasti telah tahu dan tentu saja telah berkenalan jauh dengan pranata sosial yang berlaku di kampung kita tercinta. Kisah cinta huru-hara antara koumu dan walaka yang kadang kala harus berakhir tanpa restu. Engkau pasti telah tahu dari golongan mana kau dan dari golongan mana aku. Dan tentu saja keingin tahuanmu terhadap itu semua telah mengantarkanmu pada suatu kesimpulan akhir, tetapi ketahuilah Wa Ode, apapun kesimpulanmu tidak akan mempengaruhi nilai kecintaanku kepadamu. Engkau tetaplah engkau dan aku tetaplah aku, dan kita tetaplah kita, saya pastikan tidak akan ada bedanya sejak aku menganalmu dahulu.

Wa Ode, aku bukanlah  Imam Ali (menantu Muhammad s.a.w) yang mampu merahasiakan cintanya kepada Fatima az-Zahra (putri Muhammad s.a.w). Imam Ali harus berkali-kali tidak berdaya ketika beberapa sahabat nabi mengutarakan niatnya hendak meminta Fatimah az-Zahra untuk menjadi istrinya. Dan beberapa kali juga Imam Ali harus merasa lega ketika Muhammad s.a.w tidak menerima lamaran itu semua. Bahkan beberapa kali sang Imam harus melewati jalan tak sadarkan diri (pingsan) ketika hendak menyampaikan niatnya kepada Muhammad s.a.w untuk melamar Fatimah az-Zahra menjadi istrinya. Sungguh mulia kisah cinta mahluk suci itu Wa Ode.

Wa Ode, perkara aku dan kamu telah aku sertakan pada setiap kali pengembaraanku. Telah aku jumpai bermacam-macam orang dan aku telah minta sedikit air darinya agar perkara aku dan kamu ini tetap hidup seperti sedia kala setidaknya pada diriku sendiri. Orang-orang yang aku temui itu tidak sedikit memberiku jalan untuk menuju sumber mata air. Cinta bagiku adalah sumber mata air itu Wa Ode.

Wa Ode, sebelum aku melanjutkan pengembaraan ini lebih jauh, aku ingin menanyakan suatu hal kepadamu. Sudikah engkau berdiri disampingku dan memulai langkah ini dengan sudut pandang kita ??

Wa Ode, pada akhirnya aku tidak ingin surat ini kau baca keras-keras hingga menguap dan terdengar di tetangga. Aku ingin surat ini kau baca pada saat tengah malam dan sesakali membayangkan kehidupan kita setelah ini.

 

Wali, 13 Januari 2022

S. Pipin

2 thoughts on “SEPUCUK SURAT UNTUK WA ODE”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *