Kehidupan regenerasi manusia mengalami amnesia terkait keberadaan fakta. Fakta umum bahwa sebagian besar, dasar kehidupan masyarakat dimulai dari bertani. Masalah pergeseran profesi menjadi pengaruh yang paling besar. Pergeseran profesi melahirkan keberagaman profesi manusia. Profesi yang diambil tidak direlevansikan pada dunia bertani. Padahal konsep ilmu ekonomi dasar, kebutuhan primer manusia adalah pangan, sandang dan papan. Pangan non lokal ataupun pangan lokal sebagai sumber energi melalui proses yang sangat panjang.
Masalah dalam kehidupan masyarakat dapat ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan kesehatan. Pertama, masalah sosial memperlihatkan bahwa masyarakat lebih cenderung pada hal-hal instan, mudah didapat dan praktis. Pangan-pangan kebutuhan dalam skala kecil ataupun besar telah di impor. Hal ini menjadi hama, dimana lahan pertanian menjadi tidak termanfaatkan secara ideal. Ketika melihat kebelakang, para keluarga yang hidup non konsumsi pangan impor bisa menjadi bijak dalam bercocok tanam di alam. Seperti nenek saya yang selalu bencerita tetang kehidupan masa lalu. Cerita bermula dari saya yang selalu bandel tidak pernah menghabiskan makanan saat makan. Cerita nenek saya, bahwa di zaman Ia kecil hanya setahun sekali Ia melihat beras sampai dengan ibu saya kecil pun kejadian yang sama yaitu hanya waktu lebaran beras baru bisa dikonsumsi. Kehidupan tersebut menyatakan konsumsi beras hanya dilakukan setahun sekali, sangat berbeda dengan sekarang. Beras menjadi makanan super yang harus dimakan tiga kali sehari. Pada umumnya, banyak masyarakat yang menyatakan bahwa “jika tidak makan nasi maka saya tidak memiliki tenaga untuk melakukan aktivitas”. Kedua, masalah ekonomi menjadi pukulan terbesar kita. Saat, pangan lokal yang bisa ditanam dan dibudidaya di binongko harus diimpor dari luar daerah seperti Jagung, ubi kayu dan lain-lain.
Ketiga, Masalah kesehatan harus menjadi perhatian khusus untuk melakukan pembangunan. Kita memastikan menjaga kesehatan sumber daya manusia (SDM) sebagai menuju masyarakat potensial. Penyakit yang sebagian besar diderita manusia saat ini adalah penyakit gula (diabetes). Menurut World Health Organization (WHO) 2011, Indonesia merupakan Negara ke tujuh terbesar untuk prevalensi diabetes melitus. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi normal (International Diabetes Federeation (IDF), 2015). Secara umum makanan pokok yang biasa dikonsumsi masyarakat dapat mempengaruhi penyakit Diabetes Melitus yang dihasilkan tubuh karena dipengaruhi oleh nilai indeks glikemik (IG) yang di miliki makanan tersebut. Makanan pokok yang memiliki indeks glikemik tinggi dan rendah di pengaruhi oleh struktur penyusunnya antara lain amilosa dan amilopektin, kadar serat, kadar lemak, dan kadar protein. Struktur amilosa dan amilopektin yang dimiliki ubi kayu lebih cenderung baik ke ubi kayu dengan ditandai proses perombakan enzim didalam tubuh pada pangan tersebut lebih lambat dan untuk kadar protein lainnya dapat kita lihat, komponen gizi ubi kayu segar per 100 gram adalah Kalori 146 kal, protein 1,2 gr, lemak 0,3 gr, kalsium 33 mg, fosfor 40 mg, zat besi 0,7 mg, Vitamin B1 0,06 SI, Vitamin C 30 mg, Air 62,5 gr, Karbohidrat (Pati) 38 gr, serat kasar 1,8 gr dan abu 1% Anton, 2009. Sedangkan Melihat penelitian lain, menurut FatSecret Platform API (2007) pada kandungan gizi nasi dalam 100 g antara lain: Protein 2,66 gr, Lemak 0,506 gr, Karbohidrat 27,90 gr, Serat 0,40 gr, Kalsium 35,00 mg, Sodium 3.65 mg, dan kalori 127 kkal.
Fakta sejarah menceritakan bahwa kisaran di tahun 1961 kehidupan petani lokal dan nelayan tradisional sudah mewarnai Binongko. Petani lokal yang menanam pangan lokal ubi kayu dan diolah menjadi kasoami (sangkola) sebagai makanan pokok rumah tangga sudah familiar. Nelayan tradisonal (Hekulu-kulu) sebagai lauk pauk sebuah keluarga untuk melanjutkan kehidupan di hari esok. Pada tahun yang berbeda ditempat yang sama yaitu pada 1974 kehidupan petani lokal dalam pola menanam pangan lokal mengalami penambahan varian yaitu pangan jagung sebagai makanan pokok. Jagung-jagung yang di panen akan menghasilkan dua tipe. Pertama jagung muda yang akan di olah menggunakan cara rebus dan bakar. Kedua jagung tua diolah menggunakan cara gilingan menjadi ure-ure (nasi jagung) dengan cara ditumbuk menjadi tukulamba (bubur jagung). Pangan lokal yang disebutkan, bukan bermakna bahwa pangan lokal seperti umbi-umbian lain tidak ditanam. Pangan lokal di wilayah cia-cia (Desa Wakarumende, Desa lagongga, Desa Jaya Makmur dan Kelurahan Wali) lebih bervariasi menananam pangan lokal seperti jagung, ubi kayu, hoppa dan santa. Selain makanan pokok, sebagai lauk yaitu sayur kelor bisa di tanam di binongko. (Cerita dari Nenek).
Melihat permasalahan hari ini, kita perlu mengambil peran penting dengan “Ayo bertani lokal!”. Membangun perubahan mandiri makanan pokok dengan mengembangkan diversifikasi pangan lokal. Diversifikasi pangan adalah upaya kita untuk meningkatkan konsumsi beraneka ragam pangan dengan tetap prinsip gizi seimbang. Hal ini dapat tercapai dengan membangun sebuah prinsip dalam diri dengan menggarap tanah menjadi lahan, menanam pangan lokal sebagai sumber makanan pokok supaya mudah diterima dan dijangkau masyarakat dan Meminimalisir pangan impor dari luar.
Binongko adalah pulau terujung sebagai pelengkap eksistensi dari Wakatabi (Wa= Wanci Ka= Kaledupa To=Tomia Bi=Binongko). Secara letak wilayah binongko tepat berada dibagian tenggara Wakatobi. Pada umumnya Binongko memiliki struktur wilayah darat yaitu batu bertanah. Kenyataan ini menjadikan binongko belum layak menanam padi sebagai sumber makanan pokok yang sebagian besar dikonsumsi oleh masyarakat binongko saat ini.
Binongko, 30 Desember 2021
FAI

